Home

BERCERMIN DARI WASIAT NABI MUHAMMAD KEPADA ABDURRAHMAN BIN AUF

5 Wasiat Rasulullah

Sebagai pembawa risalah, menjadi tugas utama Rasulullah-lah untuk berdakwah, menyerukan kalimat tauhid hingga tiada satu manusia pun di muka bumi yang mengingkari keesaan dan kekuasaan Allah.  Selain itu sebagai kepala negara sekaligus pemerintahan, tentu Rasulullah memiliki otoritas penuh untuk mengutus duta-duta negara ke suatu wilayah demi mengemban amanah penyampaian risalah Islam ke seluruh pelosok. Maka pengutusan duta ke Daumatul Jandal ini pula bagian daripada syiar Islam yang dilakukan oleh Rasulullah beserta para shahabat guna memurnikan tauhid pada mereka yang telah mencemarinya, atau mengenalkannya pada mereka yang belum mengenalnya.

Tersebutlah seorang shahabat utama dari golongan al-sabiqun al-Awwalun sekaligusMuhajirin bernama Abdurrahman bin ‘Auf  yang dipilih Nabi sebagai duta ke Daumatul Jandal. Satu diantara sepuluh sahabat yang semasa hidupnya telah Rasulullah jaminkan masuk ke dalam surga. Seorang shahabat yang teramat kaya, bahkan ia sanggup menyumbang 700 ekor unta bermuatan harta benda penuh untuk dakwah Islam dan perjuangan di jalan-Nya. Yang meski demikian ia tetaplah zuhud dan anti kekuasaan. Sebab tatkala Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab ` menunjuknya sebagai salah seorang yang pantas dibai’at sebagai khalifah umat Islam sepeninggal beliau, maka Abdurrahman bin ‘Auf dengan tegas menolaknya (Khalid Muhammad Khalid, 2007).

 

5 Wasiat Rasulullah

Sebagaimana duta-duta Islam yang lain, adalah suatu hal yang lazim bagi mereka untuk mendapatkan wasiat dari Rasulullah sebelum keberangkatannya sebagai bekal ruhaniyyah di perjalanan. Apakah kiranya wasiat Rasulullah pada Abdurrahman bin ‘Auf itu? Marilah kita simak dengan seksama. Dalam kitab Al-Targhib wa al-Tarhib karya Imam al-Mundziri, dicatatlah hadits yang sangat berharga itu, yakni pada bab Peringatan dari Mengurangi Takaran dan Timbangan, disebutkan:

Ibnu ‘Umar bin al-Khaththab berkata, “Rasulullah menghadap ke arah kami dan bersabda: ‘Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima hal yang menimpa kalian (dan aku berlindung kepada Allah supaya kalian tidak menjumpainya);

Pertama, tidaklah tampak pada suatu kaum perbuatan zina sehingga dilakukan secara terang-terangan (sebab telah terbiasa dan telah hilang rasa malu) melainkan akan tersebar tha’un (wabah) di tengah-tengah mereka dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya;

Kedua, tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan melainkan (mereka) akan  ditimpa paceklik, susahnya penghidupan dan kezhaliman penguasa atas mereka;

Ketiga, tidaklah mereka menahan zakat (tidak membayarkannya) melainkan akan ditahan hujan dari langit untuk mereka (tidak akan diturunkan hujan), dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan;

Keempat, tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, melainkan Allah akan menjadikan musuh mereka (dari kalangan selain mereka; orang kafir) berkuasa atas mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian dari apa yang mereka miliki;

Kelima, selama pemimpin-pemimpin mereka (kaum Muslimin) tidak berhukum dengan Kitabullah (Al-Qur’an) dan (tidak pula ia) mengambil yang terbaik dari apa-apa yang diturunkan oleh Allah (yakni syariat Islam), maka Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka (memecah belah mereka).” (H.R. Ibnu Majah dan Al-Hakim, hadits shahih).

Faidah dari Wasiat

Inilah lima wasiat besar Nabi Muhammad ` kepada Abdurrahman bin ‘Auf saat melepas keberangkatannya untuk berdakwah ke Daumatul Jandal. Dan sungguh wasiat ini hakikatnya tidak hanya berlaku pada masa itu saja, tidak pula hanya berlaku untuk Abdurrahman bin ‘Auf saja, melainkan wasiat ini ialah untuk seluruh pengikutnya dari masa ke masa, dimanapun mereka berada.

Tidakkah hadits ini cukup menjadi tamparan untuk kita? Sungguh benarlah setiap sabda Rasulullah, maka sudah saatnyalah kita berbenah meninggalkan kebiasaan kita yang kelam. Wahai umat Islam, marilah kita kembali pada Allah dan Rasul-Nya. Berhentilah mengatakan “tak perlulah mencampurkan urusan dunia dengan urusan agama”, karena sungguh Rasulullah mengajarkan bahwa Islam itu melingkupi seluruh aspek kehidupan. Islam tak hanya bicara soal ibadah mahdhah dan akhirat semata, melainkan ia juga mengatur urusan dunia.

Cukuplah sudah kita acuh dengan perzinahan yang seakan sudah menjadi hal biasa, hentikanlah semampu kita karena Allah dan Rasul telah melarangnya. Cukuplah sudah kecurangan dan tipu daya merajalela, bahkan tak jarang kita ikut andil didalamnya, hentikanlah agar Allah tak semakin murka kepada kita. Cukuplah sudah kita lalai dari membayarkan zakat-zakat kita selama ini, atau Allah akan menurunkan azab-Nya kepada kita. Dan cukuplah sudah kita ingkari janji kita pada Allah dan Rasul-Nya selama ini dengan tiada taat pada-Nya.

Ingatlah bahwa sebelum Allah tiupkan ruh kita ke jasad yang lemah ini, Allah telah terlebih dahulu menagih ikrar kita: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’.” (Q.S. Al-A’raaf [7]: 172-173)

Marilah kita renungi diri, sudahkah kita menghindarkan diri dari 5 hal dalam wasiat Rasulullah itu? Dan sudahkah kita berjuang menjauhkan lingkungan kita dari 5 hal yang mengundang 5 bala yang besar itu? Karena sungguh Rasulullah menggunakan kosakata “kaum” dalam wasiatnya itu, bukan orang per orang. Dan sungguh Allah pun telah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Q.S. Al-‘Anfaal [8]: 25).

Maka keshalihan individu saja tidaklah cukup untuk menghindarkan diri dari bencana-bencana itu. Perlu usaha yang keras untuk menyeru diri dan umat untuk bersama-sama menjauhi 5 maksiat besar sehingga terhindarlah kita dari 5 musibah yang besar itu. Semoga tulisan ini pun termasuk diantara usaha kita untuk menjauhkan diri dari bala dan mendekatkan diri pada Allah l.[]

 Irvan Riviandana Nst

Jurusan Teknik Kimia FTI UII

http://alrasikh.uii.ac.id/2014/09/15/bercermin-dari-wasiat-nabi-muhammad-kepada-abdurrahman-bin-auf/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s